Untaian kata di hari ibu

Kemaren tanggal 22 Desember 2011, saya mendapatkan sms dari teman anak saya les berenang yaitu mama Bonansa begini bunyinya :

Seorang anak bertanya kepada Allah, ‘”Ya Allah kenapa bundaku suka menangis?”

Allah menjawab, “karena bundamu seorang wanita. Aku ciptakan dia sebagai mahluk yang istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk  menjaga anak-anaknya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah. Aku beri dia rasa sensitif untuk mencintai anak-anaknya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyanyangi meski disakiti oleh anak-anaknya atau oleh suaminya sekalipun. Aku beri dia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya. Bundamu adalah makhluk yang sangat kuat. Jika suatu saat kau melihatnya menangis, itu karena Aku beri dia air mata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk membasuh luka batinnya sekaligus untuk memberinya kekuatan baru…..”

Selamat hari ibu, mari kita tingkatkan rasa syukur kepada Allah yang telah mentakdirkan kita menjadi seorang ibu.

Begitu isi sms yang sangat indah isinya itu. Saya menangis, bukan karena kata-kata indah yang diuntai sedemikian indahnya.Tetapi pada kesadaran bahwa : menjadi seorang ibu ternyata tidaklah mudah. Begitu banyaknya pekerjaan yang harus dituntaskan setiap hari  untuk mendidik anak-anaknya berikut seluruh managemen keluarganya (apalagi jika menyangkut nama keluara besar..).Kita sebagai seorang ibu haruslah bercermin dan selalu introspeksi apakah sudah benar kita mengantar anak-anak yang dititipkan oleh Tuhan ini di jalan yang sekarang kita tapak i. Apakah anak-anak ini sudah menjadi pribadi yang merugikan atau menyenangkan bagi lingkungan sekitarnya. Apakah anak-anak ini sudah menjadi pribadi yang sepantasnya membawa nama keluarga ke nama yang baik atau malah buruk. Apakah anak-anak ini sudah menjadi cikal-bakal bibit pribadi yang positif daripada negatif. Semua itu kembali kepada diri kita semua ibu…….Bisakah dan mampukah kita mendidik mereka sesuai gambaran moral yang ideal….

PR bagiku : apakah aku mampu ya Tuhan…….Tolong dampingi aku……Kabulkanlah doa kami ya Tuhan……Amin

Iklan

Ngobrol,Fb-an, sms-an kelamaan

Ini benar-benar saya alami….

Kelamaan FB-an? mata berkunang-kunang, lupa mandi, lupa makan,sampai meriang, sampai terhuyung huyung, lupa segalanya, bahkan sampai gosong yang namanya masakan, jebol listrik sudah pasti pula (karena pakai PC).

Kelamaan sms -an? pulsa sudah jelas tersedot, kadang yang di sms tidak bisa nyambung dengan apa isi sms tadi walhasil jadi nelpon balik macam suami saya, sering salah tanggap yang akhirnya bolak balik sms dengan tambahan pusing kepala malas jawab nya, kalau kata suami saya : “kamu ngalahin aku yang kerja bu, pulsaku saja masih utuh, kamu yang engga kerja malah sudah habis duluan..padahal isi pulsanya bareng di tanggal dan waktu yang sama…”

Kelamaan ngobrol? jadi ngomong yang semestinya tidak perlu diperbincangkan, kesana kemari akhirnya sakit hati, ngalor ngidul akhirnya ngomongin orang lain, belum yang dibumbuhi enak atau engga enak, kalau dapat ilmu sih lumayan (ilmu apa saja yang penting positif)

Jadi? Memang sesuatu itu jangan berlebihan dan terlalu kekurangan. Yang sedang sedang saja.

Sebelas tahun kami.

Hari ini adalah perayaan sebelas tahun perkawinan kami. Perkawinan yang dilandasi dengan cinta, tentu saja karena tidak melihat suku, harta, bagaimana dibesarkan  dan label-label kualitas lainnya. Hari ini benar benar luar biasa. Banyak peristiwa berentetan yang terjadi dan itu semua merupakan hadiah yang istimewa dari Tuhan buat kami bertiga (saya dan anak-anak).

Rinciannya adalah sebagai berikut :

– di jalan raya depan kantor Pengadilan, tiba tiba motor oleng karena ban belakang gembos. Puji Tuhan, saya bisa mengatur keseimbangan sehingga motor, saya dan kedua anak saya berhenti mulus di pinggir jalan tanpa kekurangan suatu apapun. SELAMAT…

– mencari tambal ban yang tidak jauh, dekat hotel salak, …ada, tetapi tukang tambal ban nya akan shollat jumat…..Puji Tuhan, saya masih  bisa menitipkan anak-anak ke warung nasi teh uyek yang letaknya tidak jauh dari tukang tambal ban. Sehingga sementara saya sibuk dengan si mini motor, anak-anak tetap bisa makan siang. Puji Tuhan, saya  masih bisa nge-drop anak-anak untuk makan siang sementara saya mencari tukang tambal ban lainnya.

– saya langsung ke tempat Honda service center, yaitu AHASS dekat rumah, setelah menurunkan anak-anak terlebih dahulu di rumah karena pernyataan teman si tukang tambal ban yang pertama yaitu yang mau pergi shollat jumat ” bu, ban belakang nya sudah tipis. Harus diganti…” Puji Tuhan…., saya masih diingatkan. Karena kesibukan mengantar-jemput sekolah dan les-les anak-anak ini saya jadi tidak kontrol dengan bentuk ban belakang yang sudah tipis meskipun tetep rajin servis.

– sesampainya di AHASS, rupanya uang yang saya bawa kurang. Pergilah saya ke ATM terdekat. Rupanya karena ATM tersebut ada di dalam toko yang sedang renovasi sehingga selama renovasi, m esin ATM nya dikembalikan ke bank yang bersangkutan. Saya lalu pinjam motor saya dulu buat mencari ATM lainnya yang terdekat. Sampai sana, ATM nya sudah ditunggui pak satpam karena mau ditutup dulu sementara dilakukan proses pengisian. Puji Tuhan saya masih bisa mengambil uang.

– selama mencari ATM tadi, saya mampir ke toko langganan buah saya mau beli jeruk mandarin. Sudah pesan jeruk tiga kilo, giliran mau membayar lupa, kalau uang saya engga ada lagi karena sudah buat membayar ban dalam bagian belakang dan bayar makan siang anak-anak di warung teh Uyek! Puji Tuhan….si penjualnya engga marah dan menyimpankan jeruk saya nanti setelah saya ambil uang…

– sampai di AHASS, dipanggil sama montirnya. Kata montirnya, gir harus diganti bu ini sudah runcing-runcing. Kalau tidak diganti gir nya, gir keluar dari ban, saat motor berjalan?…Puji Tuhan…..Hadiah yang sangat besar dari Tuhan. Kami bertiga diberi keselamatan.

– dengan adanya ganti gir, saya kekurangan uang lagi. Motor sudah terlanjur di preteli montir. Walhasil saya naik angkot untuk mencari ATM terdekat. Lagi lagi…..ATM nya rusak. Akhirnya saya balik lagi ke tempat servis. Puji Tuhan……berarti masih diingatkan oleh Tuhan…bahwa jangan pernah bepergian membawa uang yang pas-pas an. Takutnya ada kejadian yang tidak terduga..

– STNK saya tinggal, lalu naik motor yang sudah beres dan mencari ATM terdekat untuk membayar sisa kekurangan pembayaran ke bengkel motor tadi. Puji Tuhan…..bengkelnya masih mau percaya sama saya…..motor bisa diambil tanpa membayar lunas ….

Begitulah hadiah-hadiah yang saya terima dari Tuhan pada hari perayaan sebelas tahun pernikahan saya dengan suami. Suami saya dimana? Sedang di kantor nya di Jakarta. Puji Tuhan…..masih diberi rejeki untuk  kami gunakan dengan semaksimal mungkin.

Puji Tuhan….

Puji Tuhan

my anniversary….6 jan 2012

Today is my anniversary. It’s been eleven years that we, I and my husband married. So many experiences, happening, events, came to our lives, but still communication between us not yet become one,not yet  become united, not yet become as a whole. It’s true what everybody said that whenever a couple want to united each other, they have to be united from “bibit, bebet,bobot”. This “bibit, bebet, bobot’ is one of our ancient Java proverb which means who you are, from what you are, and where you are . Means the quality what is really meant who you are. Whether from the poor, the richer, who is your ancestor,  your educational background…something like that. It will affect though! Really.

For instance, of course me and my husband.Look at us! we are  come from the same quality background who was stated discipline is the very important thing to do – where as my father from military and my father in law from legal one-,  we both are also the same education background, but yet we are different culture and economical background. That’s what matter!

Different culture and different economical background will be the disaster toward our behavior. My husband were raised with , what we can say, enough money ….whereas me, raised with very little money so that I can appreciate others need more than my husband. That’s what really make both of us differ. Behavior also influence. For example I do more saying : oke, sorry, I was wrong…than he is. He never say sorry not even a single time. But that’s fine with me since:  every body stated that we have to calm down one another during the problems come up. That’s what married meant to be. But almost every time in our eleven years? Dear God, Thank you …..for giving me such a very understanding behavior. I pray for the Lord that in the future our married will be last till the end of time as our priest said : till death do us part…..and the most important precious thing is : my two lovely kids whom we have during our married….

Thank God for giving me such two wonderful children

Thank God for giving us pleasure and sadness

Thank God for the health

Thank God for everything….really

amen

Memasak

Item yang paling tidak saya kuasai ….Mungkin karena kesalahan jaman kecil dulu. Tangan saya rada rada gampang menjatuhkan sesuatu. Mungkin karena jari jemarinya miring. Engga lurus gitu kalau di mekarin. Kalau sesuatunya itu berupa barang mudah pecah alias fragile begitu sungguh fatal akibatnya kan?.  Dulu ya, jaman saya masih SD, karena bapak itu tentara dengan penghasilan ala kadarnya, menuntut kita sekeluarga untuk hidup hemat dan irit.  Dengan rumah dinas yang lumayan luas, +/- 400 m2, kami jadi berbagi tugas. Dengan penduduk yang hanya berjumlah empat orang (bapak saya, ibu, saya dan adik cewek), begitu beratnya beban yang harus kami sangga (wah….segitu dramatis nya). Itu pun bisa diganti. Gantian tiap bulan mengerjakan apa maksudnya. Banyak sekali. Menyapu dalam rumah, menyapu halaman, menyirami tanaman ; baik yang pot, yang menggantung, yang tanaman tahunan; , mencuci piring, mengisi dan memonitor bak air untuk keperluan mandi cuci kakus, menyetrika baju, memangkas pagar hidup yaitu teh teh an…Kalau pas kebagian cuci piring dan teman temannya itu, pasti ada saja gelas atau piring pecah. Ibu saya sih diam saja. Engga marah. Pokoknya saya engga luka titik. Tapi ternyata diam diam ngitung. Jadi genap ke enam kalinya gelas yang sama pecah, ibu saya komen : setengah lusin…..(alias setengan dosin). Begitu juga terhadap piring dan mangkok lainnya. Kata saya: nanti kuganti bu kalau aku dah kerja….Dan memang saya ganti. Gantian mbeliin perangkat beling beling itu begitu mulai kerja dan dapat gaji sendiri. Swear..!!!!!

Ibu saya tidak pernah mengijinkan saya ke dapur. Dengan alasan itu tadi. Gampang memecahkan barang. Paling kalau mbah putri dari bapak saya datang, baru saya masuk dapur. Sekedar icip icip atau bungkus bungkus. Mbah putri saya pinter masak makanan kudapan. Kue basah, camilan, sayur,…wah enak lah. Biasanya adik saya yang disuruh tester. Kurang asin, kurang manis, kurang apa……sedang saya kebagian : begini lho cara mbungkusnya……Akhirnya di saat ini memang terbukti dan teruji, adik saya pintar memasak hanya dengan base on nyicip suatu masakan, sedangkan saya canggih dalam bungkus membungkus dan lipat melipat….

Meskipun kurang atau tidak ahli dalam memasak, saya paling rajin nonton acara TV yang melibatkan masak memasak ini.  Memasak? gerah ah….tetapi makan? tetap nomor satu. Untuk mengomentari acara kuliner di TV, saya juga paling rajin tuh buat tune in nya. Komentar suami saya : ibumu mah percuma nak……nonton doang, ngerjainnya engga…….Jawaban saya : minimal kalau ibu ibu pada ngomongin masak memasak kan ibu bisa ikutan nimbrung bukannya diam aja pak……Ah, itu mah teori…..gitu balas suami saya. Karena memang diatas kertas, suamiku tercinta ini yang merajai dunia masak memasak di rumah. Betapa beruntungnya saya, dikelilingi oleh orang orang yang hobi masak, termasuk ipar ipar saya yang cowok….psssttt…… Kalau semua pada memasak, yang bagian tester nya siapa coba? musti kita kan??? Jadi, kalau ke toko buku yang gede macam gramedia gitu, anak anak saya pada mencari saya di bagian interior dan hobi. Sedangkan kalau cari bapaknya, pasti ada di lokasi masak memasak….

Pernah suatu kali saya memasak. Mencoba memasak sesuatu yang ada di dalam lemari es. Tidak baca resep, main cemplang cemplung saja. Bumbu dapur diratain saja. Yang penting kan ada bawang merah, putih, tomat, daun salam, garam, gula merah atau putih kan?….Ternyata dimakan pun engga….sudah capek masaknya, dihabisin juga engga. Saya ceritanya ngambeg nih. Kata suami saya : mbok coba ibu…..kasih tuh si copi (anjing saya) makan…..dia mau engga?kalau dia makan bu, ku makan nanti sayur mu!….wah, menghina banget nih kata katanya….Dengan harap harap cemas saya kasih si copi masakan saya tadi….Copinya datang, cuman ngendus sebentar terus pergi…….Nah tu bu, anjingnya aja engga mau makan, kok kita kau suruh  makan masakanmu!!, gitu kata suami saya…

Jadi, kalau barang barang mahal saya yang masak, masakannya jadi sampah….kalau bahan udah rada jelek menguning sedikit alias barang sampah, jika dimasak atau di tangani oleh suami saya berubah jadi masakan mewah….

Pisang kematengan

Buah pisang merupakan menu buah sehari hari yang biasa keluarga kami konsumsi. Dari pisang ambon, pisang kepok, pisang uli, pisang raja, pisang barangan ….segala jenis pisang lah. Mau dimakan begitu saja, mau direbus, mau dikolak, mau digoreng tepung, dipanggang, digethuk….semua sudah dicoba. Semua berupa pisang yang mulus keadaan kulitnya. Alias tidak mentah dan tidak terlalu mateng atau yang sudah lembek sekali bahkan untuk memegang kulitnya yang sudah mulai berbintik menghitam saja sudah jijik.

Suatu saat, saya membeli pisangnya kebanyakan. Barangkali juga karena seisi rumah yang cuma dihuni empat orang yaitu saya, suami dan dua anak  yaitu Josephine dan Nicholas sudah pada muak dan bosan atas keberadaan pisang pisang itu. Belinya memang secara kolosal alias banyak. Minimal tiga sisir. Bukan kenapa sih, alasannya kalau beli tiga bisa dapat diskon harga. Kalau satu, engga diskon biasanya. Itu di toko buah langganan saya dekat rumah. Tanpa terasa, kebiasaan beli karena diskon ini berakibat fatal dengan matengnya si pisang yang segera cepat menghitam kulitnya. Busuk ? ya belum lah, cuma lembek dan kurang enak dipegangnya. Anak anak sudah jelas tidak mau makan pisang yang sudah berganti wujud itu. Jijik katanya….ah…..

Ya tapi saya sebagai agen pemborong pisang pisang  itu juga engga kurang akal. Saya keluarkan cadangan keju dari atas lemari, susu kental manis dan butiran butiran coklat meisjes. Pertama tama pisang saya keluarkan dari kulitnya yang menghitam, kemudian dibakar di panggangan teflon ( wajan anti lengket) menggunkan mentega sebagai minyak penggorengnya. Sementara anak anak dialihkan untuk nonton Televisi supaya tidak cerewet mengomentari pisang busuk lah, pisang menjijikkan lah…

Setelah matang,  baru kemudian hangat hangat disajikan dengan taburan keju parut, lelehan susu kental dan butiran meisjes…..Komentar anak anak : ih ibu…….enak banget…..ibu beli pisang baru ya?….jawab saya dengan santainya : ” engga nak…..itu pisang yang menjijikkan tadi…..”.

Dari raut mukanya, saya asli geli setengah mati…..

Hal itu diulang lagi sorenya. Pisang pisang itu saya lumat hancur dan bersatu dengan bahan bahan lainnya menjadi seloyang cake yang manis gurih rasanya. Anak anak? Mereka pada berebut menghabiskan cake buatan saya yang katanya dari pisang pisang menjijikkan itu dengan pujian : ibu pinter ya bikin cake nya……

Hahahaha…….pada engga tahu…..makanya, kita memang harus pinter…….pinter ngirit, pinter taktik, pinter cari diskonan,……!!!

Betul…????

Musiman……

Pak Muhayar, guru olahraga sekolah Josephine, sudah tiga  minggu ini mengharuskan anak anak membawa raket bulutangkis komplit berikut shuttle cock nya. Kebetulan kami memang sudah punya sepasang jaman awal awal menikah. Tapi karena kesibukan, alasan saja sebetulnya,  jadi cuma digantung begitu saja di dinding tembok rumah. Sekarang, karena dipakai Josephine jadi mulai dibersihkan tas berikut isi raket dan kok nya itu tadi. Dulu, jaman awal awal menikah, tetangga sebelah kiri pada main bulutangkis di jalan raya, kita ikutan. Bukan karena iri, tapi untuk olahraga. Mumpung ada temannya. Juga mumpung lagi musim…

Sepeda, kami juga punya sepasang. Merk united. Dibeli jaman tahun 2001 an juga. Jaman awal awal menikah. Sebelum dan sesudah hamil anak pertama yaitu Josephine, kami rajin naik sepeda dari rumah yang di daerah Indraprasta gitu sampai ke Novotel Bogor sana, berikut Josephine nya. Pergi pagi jam 6 an sampai pulang rumah jam 11 an siang. Dulu…..sekarang, sepedanya mengonggok merana di gudang. Engga rusak, cuma belum dipakai lagi. Entah kapan.  Tunggu ada musim sepeda lagi…..

Mesin jahit juga ada. Jaman 2001 an belinya. Dibeli buat menjahit sprei dan bedong bayi. Alasannya : jahit sendiri biar irit. Memang iya sekali : iritnya. Kami selalu beli kain bedong kiloan, bahan seprei kiloan di salah satu PD di daerah tajur yang memang khusus menjual segala rupa kain yang kiloan termasuk bahan jeans, bahan gorden, selimut, baju muslim, benang, kain kebaya, bed cover dll dll nya. Setelah melahirkan yang terakhir yaitu tahun 2005 (kelahiran almarhum Jovanka) , mesin jahit itu berubah fungsi menjadi tempat nongkrong Televisi, di kamar suami saya.

Keyboard sama juga. Merk Yamaha, dibeli tahun 2001 an, bulan April. Tadinya sih buat saya, karena pengin menyanyi dan ada iringan musiknya. Sampai Josephine umur 6 tahun saja si keyboard itu berfungsi tiap hari. Begitu Josephine pakai piano , merk Yamaha juga, key board itu pun merana di sudut kamar tamu. Paling menunggu saya yang pakai itupun kalau ingat dan suami saya lagi pengin menyanyi sambil diiringi musik latar.

DVD sama juga…..sampai punya empat. Karena rusak, karena rebutan makainya, karena sudah tidak perlu dipakai lagi…….DVD kalah juga dengan anu vision. Kami pakai anu vision sekarang karena kegagalan saya memasang antena luar televisi yang mengakibatkan tiap orang di rumah ini tidak bisa nonton TV gara gara gambarnya banyak semut….

Tumpukan CD DVD…….iya tuh……sama nasibnya dengan DVD nya. Mengonggok berdebu ….kalah sama si anu vision……

Antene ? Jangan tanya punya brapa!!……

Sepatu roda…….jaman Jo TK  juga sudah punya. Rodanya bareng  jadi satu ama sepatunya. Jadi , sepaket engga bisa dicopot copot atau diganti ganti roda dan sepatunya. Sekarang..?…Juga punya. Dua pasang malah…….yang tinggal diselipin di sepatu. Jadi, sepatu bisa diganti ganti, rodanya aja yang tetap tak berubah. Bisa bling bling kalau lagi meluncur, asal engga kena air….Sekarang, rodanya sudah masuk kardus nya lagi. Engga boleh dipakai disekolah. Ada yang  jatuh soalnya…..

Musim? Ternyata memang berulang secara berkala……seiring dengan teknologi yang terus berubah….