Pisang kematengan

Buah pisang merupakan menu buah sehari hari yang biasa keluarga kami konsumsi. Dari pisang ambon, pisang kepok, pisang uli, pisang raja, pisang barangan ….segala jenis pisang lah. Mau dimakan begitu saja, mau direbus, mau dikolak, mau digoreng tepung, dipanggang, digethuk….semua sudah dicoba. Semua berupa pisang yang mulus keadaan kulitnya. Alias tidak mentah dan tidak terlalu mateng atau yang sudah lembek sekali bahkan untuk memegang kulitnya yang sudah mulai berbintik menghitam saja sudah jijik.

Suatu saat, saya membeli pisangnya kebanyakan. Barangkali juga karena seisi rumah yang cuma dihuni empat orang yaitu saya, suami dan dua anak  yaitu Josephine dan Nicholas sudah pada muak dan bosan atas keberadaan pisang pisang itu. Belinya memang secara kolosal alias banyak. Minimal tiga sisir. Bukan kenapa sih, alasannya kalau beli tiga bisa dapat diskon harga. Kalau satu, engga diskon biasanya. Itu di toko buah langganan saya dekat rumah. Tanpa terasa, kebiasaan beli karena diskon ini berakibat fatal dengan matengnya si pisang yang segera cepat menghitam kulitnya. Busuk ? ya belum lah, cuma lembek dan kurang enak dipegangnya. Anak anak sudah jelas tidak mau makan pisang yang sudah berganti wujud itu. Jijik katanya….ah…..

Ya tapi saya sebagai agen pemborong pisang pisang  itu juga engga kurang akal. Saya keluarkan cadangan keju dari atas lemari, susu kental manis dan butiran butiran coklat meisjes. Pertama tama pisang saya keluarkan dari kulitnya yang menghitam, kemudian dibakar di panggangan teflon ( wajan anti lengket) menggunkan mentega sebagai minyak penggorengnya. Sementara anak anak dialihkan untuk nonton Televisi supaya tidak cerewet mengomentari pisang busuk lah, pisang menjijikkan lah…

Setelah matang,  baru kemudian hangat hangat disajikan dengan taburan keju parut, lelehan susu kental dan butiran meisjes…..Komentar anak anak : ih ibu…….enak banget…..ibu beli pisang baru ya?….jawab saya dengan santainya : ” engga nak…..itu pisang yang menjijikkan tadi…..”.

Dari raut mukanya, saya asli geli setengah mati…..

Hal itu diulang lagi sorenya. Pisang pisang itu saya lumat hancur dan bersatu dengan bahan bahan lainnya menjadi seloyang cake yang manis gurih rasanya. Anak anak? Mereka pada berebut menghabiskan cake buatan saya yang katanya dari pisang pisang menjijikkan itu dengan pujian : ibu pinter ya bikin cake nya……

Hahahaha…….pada engga tahu…..makanya, kita memang harus pinter…….pinter ngirit, pinter taktik, pinter cari diskonan,……!!!

Betul…????

Iklan

Musiman……

Pak Muhayar, guru olahraga sekolah Josephine, sudah tiga  minggu ini mengharuskan anak anak membawa raket bulutangkis komplit berikut shuttle cock nya. Kebetulan kami memang sudah punya sepasang jaman awal awal menikah. Tapi karena kesibukan, alasan saja sebetulnya,  jadi cuma digantung begitu saja di dinding tembok rumah. Sekarang, karena dipakai Josephine jadi mulai dibersihkan tas berikut isi raket dan kok nya itu tadi. Dulu, jaman awal awal menikah, tetangga sebelah kiri pada main bulutangkis di jalan raya, kita ikutan. Bukan karena iri, tapi untuk olahraga. Mumpung ada temannya. Juga mumpung lagi musim…

Sepeda, kami juga punya sepasang. Merk united. Dibeli jaman tahun 2001 an juga. Jaman awal awal menikah. Sebelum dan sesudah hamil anak pertama yaitu Josephine, kami rajin naik sepeda dari rumah yang di daerah Indraprasta gitu sampai ke Novotel Bogor sana, berikut Josephine nya. Pergi pagi jam 6 an sampai pulang rumah jam 11 an siang. Dulu…..sekarang, sepedanya mengonggok merana di gudang. Engga rusak, cuma belum dipakai lagi. Entah kapan.  Tunggu ada musim sepeda lagi…..

Mesin jahit juga ada. Jaman 2001 an belinya. Dibeli buat menjahit sprei dan bedong bayi. Alasannya : jahit sendiri biar irit. Memang iya sekali : iritnya. Kami selalu beli kain bedong kiloan, bahan seprei kiloan di salah satu PD di daerah tajur yang memang khusus menjual segala rupa kain yang kiloan termasuk bahan jeans, bahan gorden, selimut, baju muslim, benang, kain kebaya, bed cover dll dll nya. Setelah melahirkan yang terakhir yaitu tahun 2005 (kelahiran almarhum Jovanka) , mesin jahit itu berubah fungsi menjadi tempat nongkrong Televisi, di kamar suami saya.

Keyboard sama juga. Merk Yamaha, dibeli tahun 2001 an, bulan April. Tadinya sih buat saya, karena pengin menyanyi dan ada iringan musiknya. Sampai Josephine umur 6 tahun saja si keyboard itu berfungsi tiap hari. Begitu Josephine pakai piano , merk Yamaha juga, key board itu pun merana di sudut kamar tamu. Paling menunggu saya yang pakai itupun kalau ingat dan suami saya lagi pengin menyanyi sambil diiringi musik latar.

DVD sama juga…..sampai punya empat. Karena rusak, karena rebutan makainya, karena sudah tidak perlu dipakai lagi…….DVD kalah juga dengan anu vision. Kami pakai anu vision sekarang karena kegagalan saya memasang antena luar televisi yang mengakibatkan tiap orang di rumah ini tidak bisa nonton TV gara gara gambarnya banyak semut….

Tumpukan CD DVD…….iya tuh……sama nasibnya dengan DVD nya. Mengonggok berdebu ….kalah sama si anu vision……

Antene ? Jangan tanya punya brapa!!……

Sepatu roda…….jaman Jo TK  juga sudah punya. Rodanya bareng  jadi satu ama sepatunya. Jadi , sepaket engga bisa dicopot copot atau diganti ganti roda dan sepatunya. Sekarang..?…Juga punya. Dua pasang malah…….yang tinggal diselipin di sepatu. Jadi, sepatu bisa diganti ganti, rodanya aja yang tetap tak berubah. Bisa bling bling kalau lagi meluncur, asal engga kena air….Sekarang, rodanya sudah masuk kardus nya lagi. Engga boleh dipakai disekolah. Ada yang  jatuh soalnya…..

Musim? Ternyata memang berulang secara berkala……seiring dengan teknologi yang terus berubah….

Penampilan?!?

” Yang nganterin kamu itu siapa? Ibu kamu atau pembantu kamu?”  begitu pertanyaan teman sekolah anak saya, saat anak saya kelas dua SD. Terus jawab kakak apa? aku jawab : ibuku. Besoknya saya mencari tahu siapa dan bagaimana sih ibu atau mama nya si anak yang kasih pertanyaan diatas itu. O,…penampilan ibunya bak artis ibukota dari ujung rambut sampai kakinya. Penampilan anaknya? biasa biasa saja tuh….

” Kalau merk soni mahal bu…..” kata si pelayan toko elektronik di salah satu toko di pasar bogor saat saya bertanya : berapa harga TV nya.  Saat itu saya pakai celana pendek santai, engga berdandan dan sendalnya jepit.  Akhirnya, saya beli yang merk itu memang dengan uang segepok dan diikat pakai karet.

” Kalau ibu DP in 3 juta saja, berikut fotocopy KTP, KK,….siang ini juga motor baru diantar sampai rumah bu”  begitu kata si sales motor Honda di jalan siliwangi bogor, pagi pagi sekali, bahkan toko dealernya pun belum buka. Saya, yang saat itu bawa uang cash 11 juta di tas, agak engga sabar dan ketakutan membawa bawa uang tunai menunggu toko buka tapi sudah terlanjur datang ke situ karena sekalian antar anak anak pergi sekolah. Begitu dibuka, saya lirik sales yang tadi menuju meja kerjanya, baru pertanyaan berikutnya : kalau cash, ada diskon berapa ?. Paling seratus ribu bu, kata si sales masih dengan gaya sok nya. Okelah, saya bayar cash….sembari mengeluarkan uang dari tas saya. Dengan tergopoh gopoh dia memanggil bagian keuangannya. Tingkah lakunya serba engga enak terhadap saya. Saya sih cuek saja. Maaf bu, saya kira mau ambil angsuran…..oh engga pa pa….

” Mau ikut lomba?…o….nanti ya…belum mulai….duduk saja…..dari SD mana?..O….Pengadilan dua?…..” begitu kata panitia lomba piano di salah satu sekolah ternama di sentul waktu saya dan anak saya Jo mau daftar ulang. Begitu yang datang dari sekolah internasional dari Jakarta dan pakai nya saja blazer ala jas, si anak peseerta lomba tadi dipersilahkan duduk dan test piano langsung. Mainnya fur elise….Saya dan Jo duduk diam sembari makan bekal roti tawar dan menikmati permainannya yang sembari baca partitur alias tidak menghafal. Setelah selesai main, giliran anak saya yang unjuk test piano. Partiturnya gipsy dance dan tanpa baca partitur. Panitia yang tadinya cuek, langsung sibuk foto foto Jo, dari samping, dari atas, dari bawah sembari tiarap di karpet, …..

” Mau kemana bu?o….yang menari?….silahkan…ada powder room sebelah sana…” begitu selalu kata kata satpam nya kalau saya mengantar Jo menari balet di tempat kondangan yang dituju. Kami tidak bergaya ala tamu undangan, masih pakai baju rumah, dan tidak dandan (bagaimanan mau dandan, naik motor dan berhelm kan nanti cemang cemong…., better di tempat tujuan..)

” Mau kemana bu?o….yang lomba piano…..silahkan….” masih dengan tatapan tak percaya mengantar kami test piano….Begitu mendengar alunan partiturnya, baru tatapan curiganya berganti tatapan kagum.

” Mau ikut lomba bu?, yang kecil menemani kakak ya…” begitu sapaan penyelenggara lomba renang yang mungkin kurang sibuk jadi sempat nanya nanya saat melihat saya, Josephine dan Nicholas tiba duluan di tempat lomba dibanding peserta lain. Biar kecil, anak anak saya pada bisa berenang. Kalau saya cukup gaya dadah saja ( alias langsung tenggelam ke dasar karena memang tidak bisa berenang).

” Jadi AC nya yang mana bu? sama pemurni air nya juga?…” begitu tanya si pramuniaga was was agak curiga,  di salah satu mal ritail terbesar di sentul saat saya mau ambil atau beli barang barang dimaksud. Barangkali dia takut, saya cuma ngerjain dia aja sementara dia sudah terlanjur menulisi kwitansi…..

” Jadi, mau ambil gelang yang ini atau engga?”….begitu kata yang empunya toko mas, ragu saat saya bertanya : ATM terdekat dimana. Saya memang tidak bawa duit satu sen pun. Tetapi niat membeli memang sudah ada dari rumah dan sudah direstui sama suami saya. Pikir saya, lihat lihat dulu ah,baru kalau sudah cocok sama modelnya, beli langsung daripada bawa duit kemana mana nanti malah kecopetan?. Ternyata cocok, si penjual saya suruh simpan gelang itu dan saya ngacir ke ATM terdekat ambil duit 7 juta buat menebus gelang itu….

” Mau lihat lihat meja kerja mbak, buat di rumah, yang biasa saja jangan mahal mahal……”  ” Ada ini bu, harganya 550 ribu, tetapi kebetulan lagi diskon, jadi total sama kursi 350 rb…..bagaimana?.” …sopan, tapi tidak percaya kalau saya bakalan beli. Tapi akhirnya memang saya beli. Ini lagi buat ngetik…..

dan masih banyak lainnya lagi……

Rumah Cibinong

Saya datang ke Jakarta dan permanen tinggal di kost kost an tahun 1993, tepatnya sekitar bulan Maret karena mengikuti pendidikan MDP di kantor saya. MDP itu singkatan dari Management Development Programme, program teranyar dari kantor saya dulu, salah satu bank swasta. Kalau ke Jakarta nya sendiri sebetulnya sudah sejak tahun 1991. Mengikuti in house training atau seminar seminar yang diadakan oleh kantor pusat bank di Jakarta. Saya dikirim oleh cabang pembantu candi, sultan agung Semarang. Kadang bareng juga sama kantor cabang pemuda Semarang.

Tempat singgah pertama dulu di muara karang. Bank saya dulu punya tempat menginap buat karyawan luar kota yang training ke Jakarta yaitu suatu rumah di muara karang. Bingung mau tinggal dimana kan? jadi nebeng dulu di muara karang. Kemudian pindah lagi ke bintaro ke rumah boss bapak saya. Aduh, jauhnya…..Akhirnya, sampai kos kost an yang di daerah perkuliahannya anak PERBANAS, di daerah rasuna said kuningan.

Saya kebetulan dapat kamar yang bareng jadi satu sama induk semangnya. Tadinya berdua sekamar ama anak Bank Mandiri, mbak Rini. Kemudian pindah ke kamar belakang (bekas gudang gitu, jadi yang tidur disitu dua pembantu ibu kost saya, sempit ukurannya 1,2 m x 2,5 m, bahkan ada dua pertemuan pipa talang air di langit langit kamarnya!. Jadi kalau hujan, deru suara air yang melewati pipa pipa nya terdengar bergemuruh ….Sisi baiknya, kalau turun hujan, saya sudah lari lari ke tingkat atas ambil jemuran saya….sedangkan teman teman kost saya lagi pada asyik nonton TV…). Tak lama, saya pindah lagi ke kamar seberangnya. Ini rada gedean sih, ukurannya 1,5 m x 2,5 m, saya bisa beli lemari es mini ditaruh di kamar berikut  TV 14 inch. Lumayan mewah lah, serba ada. Kalau kemana mana lagi malas, ya cukup di kamar kost saja. Ada radio berikut tape recordernya (ala tahun 1993 an,jaman pak Idang Rasyidi yang jadi ikon nya ; baz baz baz…baz…bazzoke).

Masa masa paling indah di kost kost an. Pergi kerja, pulang kerja, makan di kamar, sarapan di kamar, nonton TV, setel radio…..bener bener menikmati hidup. Sepulang dari gereja di daerah manggarai, saya jalan jalan naik bis. Kemana saja arah bis nya. Pokoknya :bis pertama yang dilihat, naiklah saya sampai tujuan terakhirnya. Dan duduk nya di depan, disamping pak supir Kopaja. Supaya bisa menikmati pemandangan Jakarta. Keliling Jakarta dengan beaya seminimal mungkin. Sampai tujuan, beli gorengan tahu tempe pisang atau lainnya tak lupa juga beli minum terus naik bis lagi dengan nomor tujuan yang sama (nantinya balik lagi ke asal saya naek kan?). Mau satu arah mau dua arah, tujuan trayek nya sama. Begitulah tiap minggu saya menjalankan program jalan jalan via bis ini secara rutin.

Kemudian, saya langganan koran Kompas. Di kost kost an lho ini. Jadi saya kemudian membaca ada demo anu di JCCC, demo anu di Hotel Borobudur, pameran pendidikan luar negeri di anu…dan lainnya. Walhasil, setelah bosan ikut trayek bis bis kopaja itu, minimal sudah tahu jalan anu itu dimana, saya ganti pergi lihat lihat pameran. Pameran perkawinan, saya lihat. Pameran mobil ,saya juga lihat. Pameran furniture, apalagi. Pameran rumah?lha ini dia…

Dulu ada teman kost saya namanya mbak anu aja lah ya (engga enak, kurang sopan lah nyebut nama). Cantik, rambutnya sepinggang, cuman memang sudah rada umur dibanding saya yang waktu itu 26an thn (sudah umur juga ya?!). Ceritanya dari depan plaza 89 ke kost saya sebetulnya dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki.Tapi karena tukang ojeknya : kasihan neng belum dapet sewa…ya udah saya mbonceng ojek nya malah kemudian jadi langganan besok besoknya. Nah, si pak tukang ojek ini yang nanya ke saya :

“neng, si neng yang itu (sembari nunjuk mbak anu waktu nurunin saya) maaf, janda ya?…..”

“huussss….bukan….belum nikah…..”kata saya, engga enak kan urusan pribadi orang lain.

“oh maaf…”..

Dari situlah, saya jadi berpikir serius untuk mencari tahu beli atau kredit rumah itu gimana caranya? terjangkau engga sih? Namanya sudah diatur Tuhan ya, barangkali memang rejeki saya juga, ada pameran perumahan terbesar sejabodetabek digelar di JCC senayan tahun 1995. Datanglah saya kesitu ditemani adik saya (oh ya, Nuke selepas kuliahnya di UNDIP menyusul saya ke Jakarta). Sudah beli katalognya di bagian depan (penerima tamu gitu) bukannya membaca baca dulu tetapi kami melangkah saja seturut kaki melangkah. Luas sekali tempat pamerannya. Sempat kepikir, cari rumah yang arah bogor sajalah.Yang dingin dingin. Karena, waktu itu yang ngetop banjir daerah bekasi tangerang gitu. Jadi, kota kota itu udah langsung dicoret lah dari data based kami (maaf). Wah, depok kok mahal juga ya…sempat nge per alias minder juga. Akhirnya ada tulisan : bayar 100 ribu bisa pilih nomor rumah….itu di cibinong, kabupaten bogor. Di brosurnya ada jalur kreta KRL Jakarta-bogor, dekat Pemda cibinong, ada rumah sakit daerahnya, ada pabrik pabrik yang nantinya saya kerap sambangi (pabrik biskuit kongguan-serena), cukup mengakomodasi lah. Nama pengembangnya Sari Gaperi sedangkan nama perumahannya Bojong Depok Baru 2 Sukahati di desa Sukahati Cibinong (yang Bojong Depok baru 1 ,arahnya dekat stasiun KRL Bojonggede). Cepet banget prosesnya dan engga repot.Saya bayar uang muka yang bisa dicicil 5 kali pula. Yang memfasilitasi KPR 15 tahunnya Bank BTN. RSS kok, type 36,82 m2. Cukup…..cukup daripada nge kost….bersyukur kepada Tuhan…..

Tahun 1996, rumah mulai di pagar tembok keliling termasuk pagar besinya pakai tukang tukang dari ibu kost saya. Saya cuma punya uang 3 juta waktu itu. Kurang lebihnya atas kebaikan ibu dan ayah kost saya,  Haji Gani. Dan saya, dibantu adik saya mulai mengisi rumah dengan tempat tidur, barang perlengkapan dapur, perlengkapan cuci menjemur, termasuk televisi yang rada besar (21 inch). Ibu saya memaksa mau datang natalan di rumah ini. Padahal air masih harus dipompa pakai tangan, listrik pun masih 450 dayanya. Jadi semua saat itu diganti dan diperbarui sekaligus. Air diganti jadi jet pump, listrik jadi 1300, wah…..semwrawut tapi senang. Pintu? masih pintu asli dari BTN, jendela jendela juga, lantai masih yang tegel item standard. Semua serba asli tampilannya dari pengembang. Tapi kami masih kost di Jakarta. Rumah ini disambangi kalau lagi pengin ‘lari’ dari pengapnya jakarta.Seminggu sekali kalau engga capek dan kalau sempat.

Baru pada tahun 1997, saya benar benar pindah ke rumah ini. Kebetulan saya mutasi ke kantor capem cibinong(Dan disinilah saya ketemu calon suami saya). Jadi buat apa kost lagi di jakarta kan? adik saya juga sudah bekerja tetap. Kami kemudian pelihara anjing. Dua ekor malah. Satu betina namanya lessi dan satu jantan namanya brownie. Brownie sampai sekarang masih sehat bahkan pindah semarang ikut adik saya. Ibu saya kemudian nyumbang semen, nyumbang pasir, nyumbang bata supaya rumah agak bagusan dan nyaman. Setiap gajian, saya menyisihkan uang untuk beli semen, atau yang lainnya. Mengganti tegel lantai dengan keramik saja ada ceritanya. Uang gajian setiap bulan di cukup cukupi mulai mengganti lantai dari kamar ke kamar. Sistemnya borongan, jadi semen pasir dan keramik si tukangnya yang beli sedangkan saya tinggal bayar dan menikmati mulusnya lantai. Karena keuangan juga pas pas an, akibatnya warna keramik yang sama, bulan depannya sudah tidak ada stok lagi di pasaran. Walhasil, setiap kamar warna keramiknya berbeda! Kamar depan warnanya putih berbintik hitam, ruang tamu warnanya biru gelap dan pink untuk kamar tidur belakang, dapur warnanya hijau, teras warnanya hitam, ruang santai warnanya merah selang abu abu (seperti papan catur), kamar mandi biru langit dan hitam pada dindingnya. Tapi rumah jadi semarak. Saya juga yang mengarsiteki ruang jemur. Dengan tangga dari batu kali, ruang jemur ada di atas dapur beratapkan fiber. Jadi, mau mencuci malam, pagi, siang, sore pun tidak bermasalah karena tidak bakalan kehujanan. Ditinggal kerja juga aman dari hujan dan pasti kering. Oh ya, ruang tamu, di kedua dindingnya dilapis batu hias warna hijau muda.Di pojokannya, antara ke dua dinding berbatu hias tadi, dibuat semacam hiasan tungku perapian dari batu hias juga.Di atas ‘meja’ tungku tadi,bisa diletakkan hiasan hiasan atau foto foto. Terserah…

Maret tahun 1999, saya harus berhenti bekerja karena perusahaan dilikwidasi pemerintah. Uang jamsostek saya cairkan, dan bisa untuk  mengganti jendela dan pintu rumah menjadi dari kayu jati, kebetulan juga sudah pada rayap. Sedangkan pesangon sebagian buat jalan jalan ke Bali dan lombok berdua sama adik saya, sisa pesangon lainnya buat hidup sehari hari dan nglamar kerja. Saya kemudian diterima untuk bisa kerja lagi di perusahaan komputer di gunung sahari sekitar awal Oktober 2000. Namanya kalau sudah rejeki engga bakalan kemana ya, tgl 22 Oktober saya disuruh seminar ke Singapore sampai 11 November 2000. Rupanya seminar yang lumayan lama ini, membuat suami (saat itu masih pacar) jadi pengin menikahi saya. Lamaranpun digelar di rumah ini pula pada tanggal 6 Desember 2000.

Rumah itu kemudian harus saya tinggalkan awal januari 2001, karena saya menikah dan tinggal di bogor. Saya tinggal berikut angsuran per bulannya ke adik saya, Nuke. Nuke tinggal disitu , merawat rumah berikut menyelesaikan angsurannya  sampai mei 2011. Sekarang rumah yang hangat itu sendirian di cibinong. Tidak ada gelak tawa lagi karena saya ikut suami dan bersama keluarga kecil kami di Bogor, sedangkan Nuke pulang ke semarang berikut kedua anjingnya, Betsy dan Brownie……

Jasamu sungguh besar, wahai rumah cibinong. Dia menanti dibeli oleh keluarga bahagia lainnya…..

Andakah?

” Better to be alone…

...than in bad company..” by Luxury Experiences.

Josephine, anak pertama saya, pulang sekolah, saat itu kelas dua SD, mukanya sedih. Ditanya kenapa diaaaam saja….ditanya : sakit nak? diaaam saja…Saya diam juga. Menunggu….Akhirnya, sembari mengerjakan PR, berceritalah dia. Rupanya diam menunggu momen yang tepat untuk mengumpulkan keberanian.

“Besok engga mau sekolah….”

Betul, saya baru saja memindahkan Josephine ke sekolah ini, sekolah negeri karena alasan keuangan. Bapaknya mutasi kerja ke Jakarta. Gaji, tidak lantas disesuaikan sama perusahaan tetapi pengeluaran penyesuaiannya langsung drop jebol. Biaya transportasi Jakarta Bogor pp, biaya sarapan karena harus pergi pagi pagi buta, biaya lunch yang pasti engga murah, biaya makan malam kalau pulangnya malam?.Semua harus diperhitungkan. Saya bukan orang yang gengsian.Yang penting tidak merepotkan orang lain titik.

Dengan lingkungan sekolah yang baru, Josephine rupanya punya ‘lawan’. Bukan menyombong , saya selalu mengajarkan bertemanlah dengan siapa saja, kaya miskin, cantik jelek, cowok cewek, kriting lurus, gendut kurus itu semua ciptaan Tuhan yang memang berbeda tidak ada yang sama persis. Jadi, kemanapun anak anak saya berada, baik di tempat les maupun di pergaulan apa saja, banyak sekali teman temannya, kecuali disini. Di sekolah ini. Kami gagal. ‘Lawan’ nya ini cewek sekelas yang ‘sirik’  karena sudah kalah populer dengan Josephine, padahal Jo anak baru. Bagaimana tidak, anak baru sudah dipuji guru karena mewarnainya bagus, menang lomba renang (saya kan harus ijin tidak sekolah karena ikut lomba), menang lomba mewarnai (dapet sepeda dari Margarine Forvita Jakarta, menang kartinian ( ya iya lah….dandan dan bajunya kan di salon yang serius)……Tiap hari Josephine dipukul lengan atas nya tanpa membalas sama sekali. Bukannya takut, tetapi saya selalu mengajari untuk : jangan membalas! Genap seminggu, engga mau sekolah.

Besoknya, itu anak saya konfrontir. Kenapa pukul Jo, jawabnya disuruh si A, kata si A disuruh si B, kata si  B engga?!!…wah…..engga bener nih…..Saya langsung lapor walikelasnya dan menggiring anak anak yang terlibat itu ke ruangan guru. Biar diselesaikan walikelas sama anak anak itu termasuk anak saya. Jadi saya engga tahu, apa yang terjadi di ruang guru. Toh memang kejadiannya masih di sekolah. Jadi harus diselesaikan di sekolah. Sekeluarnya dari ruang guru, ajaibnya, pelaku pemukulan nya nangis sedangkan anak saya engga. Oh…sinetron rupanya.Yang tidak tahu ceritanya kan pasti iba melihat itu anak banjir airmata seolah dinakalin teman temannya. Rupanya cara saya melaporkan ke guru itu salah padahal maksud saya : lha kalau anak saya dipukul terus dan engga mau sekolah kan saya yang rugi. Ibu si anak nakal tadi, mencari dan menggalang teman teman ibu ibu yang lain untuk melawan saya. Saya tahu, karena mereka pada mencibir setiap kali saya lewat. Kok aneh ya? pikir saya. Saya cuma tidak mau anak saya luka saja sebetulnya. Kalau mau pukul pukul atau tenaga berlebih, les tinju aja atau les lainnya supaya tenaga tersalurkan. Jangan anak saya yang dipukuli. Kok enak gitu. Akhirnya saya menegur ibunya. Bu, tolong ya anaknya jangan nakali anak saya…jawabnya apa?: kamu kemaren yang pukul anak saya ya?

Hah?…??????!!!!!

Rupanya, si ‘sirik’ membuat  laporan palsu ke ibunya kalau saya, memukul dia. Kata saya, kapan mukulnya? Yang saya lakukan cuma menggiring anak anak yang terlibat pemukulan itu ke kantor guru, bukan memukul dan tidak memukul siapapun.Oh…..ibu dan anak sama saja. Sama sama pecinta sinetron jelek nih. Berikutnya, anaknya ultah bulan desember, merayakan di KFC. Anak saya, satu satunya perempuan yang tidak diundang! Lha ini, …kalau undangannya antar ibu ibu sih saya engga perduli . Undangannya di umum kan di kelas saat anak anak pulang dan diabsen sama wali kelas. Jadi, walikelas nya juga tahu siapa saja yang engga diundang! Ya ampun! Ibu macam apa itu engga ngerti psikologis anak. Tiap hari anak saya bersedih….biar sudah dibeliin KFC, bahkan sampai yang delivery…gara gara tidak diundang pesta itu, sedihnya engga habis habis. Biar sudah dihibur kayak apa, juga tetap sedih….

Mulai dari situ, anak saya tidak punya teman. Temannya pada engga mau main sama anak saya karena pada takut sama si’ sirik’ tadi. Dia mengancam semua anak yang mau main sama anak saya. Akhirnya, saya suruh anak saya bawa mainan sendiri. Jadi sembari menunggu kelas belum mulai, atau saat istirahat, Jo main boneka. Nanti, kalau teman temannya pada melihat dan berkerumun di seputar Jo, si ‘sirik’ tadi menarik tangan tangan temannya supaya jangan main sama anak saya. Begitu seterusnya sampai kelas tiga. Wah, mau nulis saja anak saya engga bisa konsentrasi karena selalu dikata katain. Tiap hari anak saya curhat. Saya menghiburnya selalu supaya tidak sedih. Begitu terus setiap hari. Saya sendiri sudah pada tahapan, apa pindah sekolah lagi yaaa?….Anak yang bermasalah itu tadi bahkan kalau melihat saya, saya kan orangtua ya, meludah…,kadang membuang mukanya, mencibirkan mulutnya, memelototi saya…..Hebat ya? Setiap ibu pasti membela anaknya, apapun kesalahannya. Tapi kalau kelakuannya begitu ? Unbelievable ..saya cuma mengurut dada. Jadi ini merupakan pelajaran berharga pula : jangan pernah percayai anak kita, cek dulu sebelum bertindak.

Tapi Tuhan memang tidak tidur. Sekarang kelas empat, Josephine sudah tidak sekelas dengan si ‘sirik’. Sekarang, dengan langkah gontai, gantian si ‘sirik’ yang tidak punya teman. Group nya yang dulu, bahkan sekelas saja sudah tidak mau, pada minta pindah kelas. Main sama dia? Sudah pada engga mau! Menyapa pun engga…..

Saya? Kasihan melihatnya. Tapi no way….engga mau terjerumus untuk kedua kalinya. Anak saya? Tetap main sendirian, bawa boneka atau rumah rumahan, atau puzzle, atau game…., atau mengerjakan PR untuk besok di sekolah…..

Hukum karma?

Dulu,…….ibu saya suka menggerutu kalau dengar tetangga belakang rumah setiap masuk ke kamar mandi mereka yang dibelakang selalu hoek hoek  dan olah segala vokal nya dari yang rendah sampai yang lengkingannya ala penyanyi seriosa. Sekarang,……saya tiap hari harus mendengarkan suami dan kedua anak saya either Josephine yang cewek dan Nicholas yang cowok melakukan hal yang sama. Padahal saya engga benci, engga membatin, juga engga keberatan.

Dulu,…….ibu saya kurang suka sama orang sumatera. Kebetulan selama hidupnya, beliau punya tetangga dan kenalan orang ‘sana’ yang menurut beliau almarhumah adat istiadat nya ‘luar biasa’. Sekarang, ……..mantu  ibu saya , yaitu suami saya ,dari suku Batak Karo yang memang aslinya dari sumatera. Padahal saya engga benci, engga membatin, juga engga protes.

Dulu,….., saya komentari tetangga saya yang di cibinong begini : kasihan ya mbak Yana dan suaminya. Jam 5 pagi udah naik motor ke stasiun mau kerja ke arah Jakarta.Pulang jam 11 an malam.Gimana ya cara tidurnya? Asli, saya engga ngatain cuma prihatin sebenarnya.Persis setahun kemudian, saya pindah Jakarta karena ada jabatan kosong di kantor buat saya! Jadi, saya lalu merasakan apa yang mbak Yana rasakan, ya capeknya, ya kurang tidurnya, ya romantika di atas gerbong KRLnya…..

Dulu,……adik saya (dan saya sebetulnya) sebel sama tetangga sebelah kiri kami di cibinong.Hobinya masak nasi goreng.Pagi,siang,sore, malam pokoknya nasi goreng.Sekarang,…….anak anak saya doyan banget sama nasi goreng.Mau ditemenin sama bakso,udang,sosis, minimalis alias pure nasi goreng tanpa telor, dicampuri pete kek….hidangan favorit tetap: nasi goreng! Itu termasuk kalau makan di luar rumah (warung atau restoran gitu).Mau jauh lokasinya mau dekat yang penting ordernya nasi goreng.

Oh ya mengenai jengkol.Dulu,……saya engga suka jengkol karena ibu saya engga suka jengkol.Mendingan pete.Pete rebus, pete bakar, pete goreng,pete dicampur dalam masakan… Jadi masakan yang dimasak jelas tidak ada jengkol karena kata ibu saya bau lah, kampungan lah, dan lain lainnya. Sekarang,……saya gila jengkol!Gara gara suami saya masak rendang  jengkol dan saya disuruh nyicip. Pertamanya sih jijay gitu. Lama lama…..wah kok enak ya….akhirnya sekilo rendang jengkol tanpa sadar sayalah yang ngehabisin! (baru tahu kalau suami saya ternyata cuma ambil dua keping!).Besokannya, saya engga bisa bangun dari tempat tidur karena pinggang serasa dipaku di kasur! Swear….sampai segitunya…You’ve better believe it!

Dulu,…….mertua saya kurang suka sama suku Jawa, Sunda dan Cina. Sebetulnya sih pada manusianya karena benturan adat istiadatnya semacam itu bukan pada suku bukan pula agamanya. Tapi untuk memudahkan, pengeneralisasiannya jadi lebih gampang ngomong: dasar orang Jawa,sunda,cina. Sekarang…….mantu mantunya orang Jawa (saya), Sunda dan Cina.

Dulu,…….ibu saya hobi banget bangun pagi pagi buta, tiap hari, jam empat an gitu hanya karena mau menyiram tanaman!Semua jendela dan pintu dibuka lebar lebar biar udara segar masuk,begitu alasannya.Tapi nyamuk kebun kan jadi pada masuk tuh.Benci saya kalau ingat momen itu.Sekarang,……saya melakukan hal yang sama. Baru ngeh waktu suami dan anak anak saya protessss…...Bu, nyamuknya banyak….!!!

Saya sewaktu sekolah rada jago matematika.Guru baru nulis soal di papantulis, saya sudah bilang :soalnya salah pak. Itu jaman SMA….Sekarang,…..pusiiiiiiiiing deh ngajarin anak anak matematika……bawaannya pengin tereak tereak ….

Semua contoh hal di atas tadi menimpa saya.Coba ingat ingat, apakah?…..

Pijat,pijit,urut,refleksi..

Kedua orangtua saya hobi banget sama yang namanya pijat,pijit,urut dan entah apa lagi namanya.Dulu, jaman saya  masih kecil, belum sekolah malah,sudah ada langganan tukang pijat yang datang ke rumah kami di magelang.Biasanya memang tukang pijatnya berjenis kelamin perempuan.Nah, yang dari jaman saya belum sekolah ini bahkan pernah membawa saya nginep di rumahnya!Itu saking akrabnya.Engga model jaman sekarang yang rawan penculikan.Saking akrabnya juga, si mbak pijit ini perginya ke rumah kami juga saat dia jadi gila!Gila karena ditinggal suaminya kata bapak saya.Amazing ya?Gila tapi dia inget rumah kami.Tetapi karena bapak saya tentara dan mobilitas pindahnya tinggi, sewaktu SD kami pindah semarang dan jadinya sudah engga tahu lagi kabar mbak pijit yang gila tadi.Ganti kota?jelas ganti tukang pijit.Mosok mau bawa tukang pijit yang dulu?Lha ini hebatnya orangtua saya.Suatu sore ada ibu ibu lewat depan rumah sedangkan bapak saya lagi potong tanaman.Begitu si ibu tadi lewat, bapak saya menyapa: maaf bu, sampean tukang pijit?yang disapa bilang:iya pak. kok tahu?’lha dari bau minyak gosoknya? kata bapak saya mesem.Coba, saking sudah merasuknya pijit memijit ini, sampai dari baunya aja bisa tahu kerjaannya.Pindah ke Banjamasin juga begitu.Cari tukang pijit disana.Nah, di banjarmasin inilah saya mulai ikut dipijit.Dari tadinya cuman diam saja engga mau pijit, sekarang ….this is it…..saya mulai terjun ke dunia pijit memijit ini.

Pijat ini rutin sekeluarga kami lakukan.Bahkan sampai saya harus kost di Jakarta sendirian karena mengikuti pendidikan kantor dimana saya bekerja.Kok ya kebetulan,induk semang kost saya itu hobinya pijit lho ya!Walhasil ritual pijit memijit ini berlangsung terus.Waktu pertama kalinya saya dipijit, rupanya teman teman se kost saya pada geger, ribut.Tadinya saya cuek saja karena engga tahu.Tahunya begitu nganter si ibu pijit keluar dari kamar kost saya yang paling belakang kamarnya menuju teras depan yang harus melewati sekitar 4 kamar yang ukurannya 4×5 an gitu kira kira.Semua anak yang lagi pada nonton melihat ke arah perut dan kaki saya.Pikir saya kenapa ni orang?Tahunya, mereka mengira saya panggil tukang pijat karena mau menggugurkan kandungan!Ya Tuhan, ampunilah mereka.Itulah, engga mau tanya, maunya nge cap orang.Kalau ibu kost saya memang nanya waktu saya bilang mau ikut pijit sama tukang pijit langganannya itu.Kenapa pijit nita?kata saya:memang sudah biasa dipijit dari saya masih di SMP bu…Enak kan, tinggal tanya.Karena memang sih kalau sampai anak kostnya ada yang keguguran, kan kost kost annya dicap jelek deh.

Begitu menikah, saya juga masih melanjutkan hobi ini.Anak anak saya?Jelas mereka pada ikutan pijit.Dari masih bayi sampai sekarang.Dari manggil tukang pijit sampai yang sekarang lagi ngetrend yaitu refleksi.Si niko, anak saya yang paling kecil malah bisa hafal gerakan awal pijat refleksi.Saya tahu begitu dia mencoba pijit saya di rumah….oo…..kok tahu gerakan refleksi nya.Hi hi hi…geli juga.Geli bisa mewariskan tradisi pijit memijit ini.Cuman niko sekarang belum boleh pijit.Ceritanya akhir bulan juli lalu tepatnya tgl 26 juli, tangan kiri nya patah di dua bagian, atas dan bawah (kata teman temannya sih didorong si anu…tapi udahlah saya engga mau ribut.yang penting sekarang bagaimana nyembuhinnya).Adalah pak Gusti, pelatih renangnya yang membantu mengatasi patahnya itu.Pak Gusti kebetulan asli dari Bali.Di Indonesia kan setiap suku punya tradisi pijit memijit dan jamu menjamu.Hal ini diterapkan di tangan niko.Pergi ke dokter?wah sudah engga terpikir tuh.Mengapa?Karena sebelum niko patah tangannya, anak nya pak gusti yaitu mbak ayu pernah kecelakaan motor dan kakinya yang persendiannya bergeser, bapaknya juga yang mbenerin.Kurang dari sebulan sudah jalan dengan gagah mbak ayunya.Pihak RS nya aja pada angkat tangan.Jadi begitu kejadian niko patah tangan, saya langsung menghubungi pak Gusti.Dibenerinnya hanya pakai sereh, rebung dan bawang merah….Bumbu dapur dan sayur?yap…..engga salah.Tongkat sebagai penjepit nya saja dari bambu.Percaya engga percaya?Percaya sajalah karena otak saya sudah buntu melihat anak ku, undhul undhul ku, tangan kirinya patah.Seminggu kemudian, tulang bagian bawah sudah nyambung sedang bagian atas geser lagi.Setiap hari pula saya bawa niko ke kolam renang atas instruksi pak Gusti.Mungkin dengan dibawa ke kolam proses penyembuhannya jadi cepat.Gimana tidak?dia pengin berenang, bisa berenang, tapi engga bisa karena keadaan.Setiap hari!.Akhirnya sebulan kurang tiga hari,niko boleh berenang.Gaya bebas dulu, biar melancarkan otot otot.Tapi anaknya sudah kayak bendungan jebol.Sudah biasa berenang tiap hari (kecuali minggu dan senin) jadinya harus puasa berenang hampir sebulan.Semua gaya dijabanindengan semangat tapi under pak Gusti supervision.Tgl 2 oktober 2011, niko sudah menyabet medali perunggu untuk gaya punggung 50 meter di cikarang, bekasi.Trimakasih Tuhan…..Trimakasih pak Gusti…..

Jadi, pijat, pijit, urut, refleksi ini…..?Sudah mendarah daginglah di keluarga kami…mau ditinggalkan?wah, berat euy…….